BAB 7

2639 Words
Setelah mendengar ungkapan cinta dari Fiona, Derdi merasa sangat senang, karena ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Dia bahkan langsung mencium Fiona dengan sangat lembut untuk mengungkapkan kebahagiaannya itu. Lalu ciuman itu berubah menuntut, bahkan disertai desahan karena kenikmatan yang Fiona rasakan. Derdi memang sangat pandai dalam berciuman dan, emm urusan ranjang. Apa yang dia lakukan tidak pernah mengecewakan Fiona, bahkan Fiona semakin ketagihan karena perbuatannya itu, Kenapa berbuat dosa senikmat itu? "Emmm" Fiona mendesah sembari merngalungkan tangan nya di leher Derdi, Fiona mulai menikmati apa yang dilakukan oleh laki laki di atasnya itu. "Boleh ya? Milikku udah turn on, Sayang, dia membutuhkan pelepasan dengan segera," lirih Derdi bahkan suaranya terdengar serak karena menahan gairah. Fiona menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan apa yang Derdi inginkan. Entah kenapa, di saat seperti ini Fiona selalu saja menurut apa yang dikatakan oleh Derdi. Awalnya memang dia menolak dengan sangat tegas, tapi semuanya berubah karena bujuk rayu Derdi, dengan segala janji manisnya itu. Pada intinya Fiona percaya dengan apa yang dikatakan oleh Derdi. makanya dia mempercayakan segalanya, bahkan menyerahkan harta berharga nya untuk laki-laki ini. Lalu mereka pun melakukannya di sofa ruang televisi, Derdi mulai menciumi leher Fiona dengan seduktif, bahkan Fiona sampai meremang merasakan aliran listrik dari gairah yang dia rasakan, hingga akhirnya Derdi ingin membuat kissmark, namun Fiona menghentikannya. "Ih jangan di leher! Besok aku kerja tahu" ucap Fiona ngambek. "Iya, Sayang, maaf-maaf." Derdi langsung membuka kaos Fiona dan melepaskan branya, dan kemudian, mulai meremas dan mengecup d**a ranum Fiona. d**a Fiona sangat pas di tangannya, bahkan rasanya dia tidak bisa melupakan bagian favoritnya ini. Derdi mulai menjilati ujungnya, dan sukses membuat Fiona mendesahkan namanya. Ahhh, Der , desah Fiona karena perbuatan Derdi, Fiona semakin mengalungkan tangannya dan merapatkan tubuhnya kala kenikmatan itu semakin menguasai dirinya. Derdi menurunkan ciumannya, bahkan sampai di bawah perut Fiona. Dia mulai menciumi titik sensitive milik wanita itu ah oral seks Derdi menciumi dan menggelitik milik Fiona dengan lidahnya. Geli, itulah yang dirasakan oleh Fiona. Kegelian bercampur dengan kenikmatan karena ulah Derdi pada miliknya. Derdi mulai meraba milik Fiona dengan menggunakan jarinya, sangat basah! "Kamu semakin basah, Sayang," ucap Derdi vulgar, dia lalu memasukkan jarinya ke lubang kenikmatan milik Fiona. Jarinya terus digerakkan dengan gerakan keluar-masuk. Awalnya dengan tempo pelan, tapi lama kelamaan menjadi cepat. Fiona semakin mendesah dengan keras bahkan tangannya tak henti meremas rambut Derdi agar laki-laki itu semakin memperdalam ciumannya pada miliknya. Perpaduan antara lidah dan jari Derdi menimbulkan kenikmatan yang tiada tara bagi Fiona. Derdi mulai memasukkan dua jarinya lagi, dan hal ini semakin membuat Fiona merasakan apa yang namanya kenikmatan yang sesungguhnya. Hingga ketika Fiona akan segera mencapai puncaknya, Derdi dengan semangat menaikkan tempo gerakan jarinya agar Fiona segera o*****e dan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Derdi dengan sigap langsung menjilatinya bahkan menghabiskan cairan itu, apa yang dilakukan nya sukses membuat Fiona kegelian. "Rasamu sangat manis, Sayang," ucap Derdi, "sudah siap dengan hidangan utama?" Fiona hanya mengangguk, lalu Derdi langsung menggesek-gesekkan miliknya di pintu masuk lubang kenikmatan Fiona. Derdi memasukkannya dengan sekali hentakan dan sukses membuatnya memekik karena apa yang dirasakannya. Sangat sempit, Sayang!" Derdi mendesah, "dan hangat." Derdi kesetanan, dia bahkan langsung menghentakkan miliknya dengan tempo yang cepat membuat Fiona kelojotan sendiri karena sakit bercampur dengan kenikmatan yang dia rasakan. Fiona memang belum terbiasa dengan ini, bahkan miliknya masih terasa nyeri setelah Derdi melakukan itu, tapi entah kenapa Fiona selalu mengangguk setuju jika Derdi menginginkan miliknya berada di dalamnya. Setelah itu mereka pun berganti posisi, Derdi berada di belakang Fiona, lalu mulai menggerakkan lagi miliknya. Dia masih sangat kuat untuk melakukannya dan seakan akan Derdi tidak memiliki rasa lelah sedikit pun untuk bercinta dengan Fiona. Padahal mereka sudah dua jam melakukannya, hingga akhirnya pelepasan pun datang, Derdi membiarkan Fiona untuk merasakan orgasmenya. "Terakhir kali doggy style ya, Sayang." Fiona hanya menurut karena belum terlalu sadar dengan pelepasannya. Fiona membungkuk di hadapan Derdi, dan laki-laki itu mulai memasukinya lagi dari belakang. "Nikmat, Sayanggg," desah Derdi menikmati milik Fiona yang sangat sempit, junior Derdi bahkan terasa terjepit, dan sangat nikmat baginya. Apalagi milik Fiona sangat hangat, membuatnya betah berlama-lama melakukan itu dengan wanitanya ini. Tak lama kemudian mereka pun sama-sama mengeluarkan cairannya, cairan mereka melebur jadi satu dan mungkin menghasilkan baby yang sangat lucu nantinya. Fiona yang lelah langsung membalikkan badannya dan langsung memeluk Derdi. Tapi karena milik Derdi yang masih saja menegang, Hal ini membuat Derdi langsung saja membangkitkan gairah Fiona, dia bahkan langsung mencium Fiona dan meremas dadanya lagi, memojokkannya di dinding, lalu dia mengangkat satu kakinya dan mulai memasukkan juniornya ke milik Fiona. Dia tetap mencium Fiona dan menggerakkan miliknya secara sekaligus, hal ini membuat Fiona tak henti-hentinya mendesahkan namanya karena kenikmatan yang Derdi berikan. Satu jam kemudian, akhirnya mereka menyelesaikan acara bercinta mereka. Derdi menggendong Fiona untuk dibawa ke kamarnya, bahkan miliknya masih saja berada di milik Fiona tanpa mau melepaskannya terlebih dahulu. Jadi saat mereka berjalan milik Derdi seakan menyodok milik Fiona lagi. "Itu kamu lepasin ih," kesal Fiona, bahkan wanita itu memukul d**a Derdi pelan. "Emang kenapa?" tanya Derdi menyeringai. "Itu kamu gerak gerak terus kalau jalan jadinya, aku capek tahu," ucap Fiona polos, hal ini membuat Derdi tertawa dan Fiona hanya memberengut karena Derdi menertawakannya. "Iya-iya, Sayang, kalau udah sampai ranjang," ucap Derdi. Setelah sampai kamar mereka langsung tidur, berpelukan, saling mendekap dan memberi kehangatan. Jam sudah menunjuk pukul satu dini hari, Fiona mulai terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya yang keroncongan, dia sangat lapar sekarang. Dia mulai melonggarkan pelukan Derdi di badannya. Fiona lalu menggoyangkan tangan milik laki-laki yang disayanginya itu. "Der, bangun," ucap Fiona. Dia sangat lapar tapi Derdi justru semakin mengeratkan pelukannya, hal itu membuat Fiona sesak. Fiona lalu mencari cara lain agar laki-laki itu segera bangun dari tidurnya. Dia mulai meraba d**a bidang Derdi dan mulai menciumnya dengan seduktif, dan hal itu sukses membuat sang empunya mulai terbangun dari tidurnya. "Kenapa, Sayang? Mau lagi? Hemm?" tanya Derdi. Fiona mencebikkan bibirnya, dia lalu berkata, "Aku laperrrr tahu! Dari tadi malam belum makan gara-gara kamu!" ucapnya ngambek. "Ya udah, Ayo?" ajak Derdi. Laki laki itu langsung bangun, dia paham dengan apa yang Fiona katakan. Dia langsung memakai pakaiannya dan tak lupa mengambil jaketnya, udara malam ini terasa sangat dingin. Setelah selesai berpakaian mereka langsung keluar apartemen dan menuju basement, kali ini mereka makan di warung tenda pinggir jalan. Karena siapa? Kalian pasti tahu kalau ini permintaan dari Fiona, padahal Derdi sudah menolak tapi Fiona tetep kekeh dengan pilihannya. Fiona kangen makan pecel lele di warung Pak Simen. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di tempat tersebut, walau jam sudah hampir menunjukkan pukul dua dini hari, namun di sini masih sangat ramai, karena tak diragukan lagi rasa makanannya yang sangat enak dan tentunya dengan harga yang murah. Mereka duduk bersampingan, karena tempatnya yang lesehan, tapi walau begitu Fiona sangat senang dengan suasana yang seperti ini. "Kamu mau pesen apa?" tanya Derdi kepada Fiona. "Pesen ayam goreng tapi bagian paha, emmm, minumannya es teh tawar," jawab Fiona. "Oke, tunggu bentar ya, aku mau pesen dulu, ucapan Derdi sukses membuat Fiona tersenyum, entah kenapa perhatian sekecil ini pun sukses membuat Fiona bahagia dan semakin jatuh cinta pada laki-laki yang ada di sampingnya ini. "Di sini rame banget ya? Sampai-sampai mau makan nunggu lama kayak gini," tanya Derdi, sungguh, ini baru pertama kalinya Derdi makan di tempat seperti ini. "Iya lah, pecel lele di sini enak banget tahu, makanya banyak pembelinya. Kamu pasti belum pernah nyobain, kan?" tanya Fiona dia sudah bisa menebak akan jawaban dari kekasihnya ini. Mana mungkin Derdi mau makan di tempat seperti ini? Melihat penolakan darinya saja dia sudah tahu kalau dia bahkan tidak level makan duduk di lesehan seadanya seperti ini. "Belum pernah, Sayang. Ini pertama kali, demi nurutin keinginan kamu," ucap Derdi sambil memainkan rambut Fiona yang sedang bersandar di bahunya. "Monggo, diunjuk, Mbak, Mas," ucap pelayan memotong pembicaraan mereka, karena sedang mengantar minuman pesanan Derdi dan Fiona. "Iya, Pak, makasih, warungnya masih rame ya, Pak? Padahal udah jam segini," tanya Fiona basa basi, dia sudah kenal dengan pemilik warungnya ini. "Alhamdulillah, Mbak. Lho Mbak Fiona sama siapa, Mbak? Kok kebetulan saya baru tahu," tanya Pak Simen. "Ohh, dia itu te Belum sampai selesai bicara Derdi sudah memotong ucapannya, "Saya calon suaminya, Pak," ucap Derdi "Alhamdulillah, Mbak Fiona mau nikah, toh sama Masnya? langgeng ya, Mbak, Mas, saya mau bantu istri saya dulu masih kerepotan di sana. Monggo, Mbak, Mas," ucap Pak Simen yang dibalas dengan anggukan dari Derdi. "Cieee, yang ngakunya calon suami? Kapan lamar aku coba? Hemm?" ucap Fiona menggoda, memang benar jika Derdi belum pernah melamarnya, eh udah ngaku jadi calon suaminya. Derdi mendekatkan bibirnya di telinga Fiona. "Sejak juniorku berhasil masuk ke sarangnya, itu berarti kamu udah jadi calon istriku, Sayang, calon ibu dari anak-anakku," ucap Derdi vulgar, untung saja suara Derdi sangat pelan hingga tidak membuat pengunjung yang lainnya mendengar suaranya. "Ish, pervert banget!" ucap Fiona memukul pelan tangan Derdi. "Sambil nunggu pesenan, kamu coba certain tentang keluarga mu dong, Sayang," ucapan Derdi membuat Fiona langsung sedih hal ini semakin membuat Derdi penasaran dengan keluarga kekasihnya itu. "Aku udah nggak punya keluarga, dulu Papa sama Mama kecelakaan waktu mau pulang ke Indonesia. Aku yang masih SMP waktu itu, nggak tahu apa-apa. Tiba-tiba warisan dari orang tuaku diambil alih sama pamanku, dan aku cuma di kasih apartemen sama uang untuk sekolah sampai SMA. Keluargaku nggak ada yang peduli sama aku, untung saja aku bisa kuliah dengan beasiswa," ucapnya sendu dan Derdi hanya mampu menenangkan Fiona. "Kalau boleh tahu, nama perusahaan Papamu apa?" tanya Derdi, mungkin dia akan membantu Fiona nanti. "Adiputra group, dulunya Papaku namanya Fernan Bharmantya Adiputra kamu pernah dengar nggak?" tanya Fiona. "Kamu tenang aja, Sayang, nanti aku akan cari tahu tentang perusahaan Papamu, aku akan mengembalikan apa yang akan menjadi hakmu. Kamu jangan sedih." Derdi langsung mencium pelipis Fiona. Kenapa nama kamu nggak pakai nama belakang Papamu, Fi? tanya Derdi penasaran. Hehe, itu nama belakang keluarga Mama, aku, kan cucu pertama dari keluarga Mama, karena Mama anak satu satunya. Tapi gak tahu juga kenapa keluargaku bisa secepat ini pergi, aku juga gak tahu kabar kakek dan nenek dari Papaku, ucap Fiona mencoba tegar. Aku akan cari tahu keadaan mereka, ya, Sayang, nanti aku kabari lagi kalau ada perkembangan, ucap Derdi. "Ehm, maaf, Mbak, Mas, pesenannya udah jadi," ucap istri Pak Simen. "Oh iya, Bu, makasih," ucap Derdi menimpali ucapan ramah dari istri pemilik warung tenda ini. Mereka akhirnya langsung menghabiskan makanan itu dengan lahap, benar kata Fiona, makanan di sini memang tidak mengecewakan. Tempat boleh seadanya, tapi rasanya sangat luar biasa. Hari ini Fiona masuk kerja seperti biasanya, dia berangkat bersama Derdi bahkan berjalan berdampingan ketika memasuki gedung kantor. Walaupun banyak mata yang melihatnya dan banyak pula yang menyindirnya sebagai simpanan lah, cabe-cabean lah, p*****r lah, Fiona hanya diam, dia tidak mau meladeni ucapan mereka. "Diam! Apa kalian saya gaji untuk membicarakan calon istri saya?" ucapan Derdi membuat semuanya terkejut. "Nantikan undangan pernikahan saya satu bulan lagi, kami akan menikah. Jadi hentikan omong kosong kalian! Kalau saya mendengar itu lagi, maka bereskan barang-barang kalian dari sini!" ucap Derdi lalu pergi meninggalkan karyawan yang dengan terang-terangan mencerca Fiona tadi. "Kamu nggak boleh emosi," ucap Fiona menenangkan, dia tidak suka melihat Derdi melakukan atau berbicara dengan intonasi seperti tadi. "Iya, Sayang," ucap Derdi lalu mencium ujung bibir Fiona. Hari ini setelah pekerjaannya selesai, Derdi berencana untuk mengajak Fiona ke rumah orang tuanya. Bukannya takut, Fiona justru sangat senang, dia sangat antusias untuk bertemu dengan adik kembar Derdi. Hal yang membuatnya lebih tenang adalah fakta bahwa ibunya Derdi sangat baik dan berpikiran terbuka, Fiona bahkan sangat nyaman saat berbicara dengan Mama Diandra. Sampai di sana mamanya menyambut mereka dengan senyuman. "Hallo calon menantu Mama," ucap Mama Diandra langsung memeluk Fiona. "Hallo, Mah, oh ya si kembar mana, Ma?" tanya Fiona, dia sangat penasaran dengan wajah si kembar, adik dari Derdi. "Bentar, Mama panggilin, Andrew, Endrew, ke sini, Sayang! Ada kakak cantik di sini," teriak Diandra memanggil anaknya. "Aaaah, Kak Fiona!" Mereka langsung memeluknya erat, Diandra memang sudah menceritakan tentang Fiona kemarin. Apalagi setelah mereka memamakan kue kering buatan Fiona, hal itu membuat mereka ingin segera bertemu dengan sang pembuat kue. "Hello, Boy," ucapnya sambil mencium pipi mereka. "Iya-iya, mentang-mentang ada yang baru, anak sendiri dilupain," ucap Derdi kesal. Pasalnya dia bagaikan anak yang tidak dianggap oleh orang tuanya, baru ketemu Fiona, eh mereka langung sibuk tanpa mau menyapa mereka. "Hai, anak kesayangan, Mama," Diandra langsung memeluk anaknya yang sedang kesal itu. "Halo, Mama sayang, oh ya, Ma, Papa mana? Ada yang mau aku bicarain sama Papa," tanya Derdi pada Diandra. "Papa di ruang kerja, kamu hari ini nginep di sini! Nggak ada penolakan, oke?" ucap Mamanya tanpa bantahan. Wanita ini merindukan anaknya yang jarang pulang dalam rangka mencari tambatan hatinya. "Fiona nggak bawa baju ganti, Ma," ujar Fiona karena mereka ke sini tanpa ada persiapan, habis pulang kantor langsung ke sini. "Ayok, Sayang, kita shopping aja, habisin duit calon suamimu itu, ya nggak, Boys?" tanya Diandra ke anak kembar mereka, lagi pula Derdi tidak akan marah jika mereka melakukn hal itu. "Betul, Ma! Aku mau mainan," pinta Andrew pada Mamanya. "Jadi anakku, Sayang, berikan kartumu pada Mamamu," ucap Diandra pada Derdi, laki-laki ini langsung memberikan kartu kreditnya kepada Mamanya. Derdi langsung membisiki Mamanya. "Jangan lupa belikan lingerie yang seksi, Ma, biar cepet punya cucu ya?" ucapnya berbisik. "Siap, Dude!" jawab Mamahnya, bukankah Diandra gila? Sebagai ibu malah menyuruh anaknya untuk segera membuatkan nya cucu. Tapi dia terlalu cemas dengan anaknya, takut jika nanti gagal menikah lagi, kalau sudah hamil, kan pasti jadi menikah. Itu yang dipikirkan oleh Diandra. "Yok, Fi, kita langsung pergi aja! Dude, pamitkan Papa ya, Mama mau shopping sama Fiona," ucap Mamanya pada Derdi. "Siap, Ma, hati-hati ya, Sayang." Derdi mencium kening Fiona dengan sayang, hal ini membuat wajahnya memerah karena malu di cium di depan calon mama mertuanya. Sementara para perempuan shopping, di sini Derdi sedang membicarakan hal serius dengan papanya mengenai Fiona . "Pa, aku mau nanya, Papa pernah dengar gak, tentang Adiputra Group?" tanyanya serius, Derdi sengaja ke rumah memang ingin bertanya mengenai masalah ini dengan papahnya. "Adiputra Group? Kenapa memangnya? Mereka itu musuh bebuyutan perusahaan kita, Dude," ucap papanya tegas, dia sedikit emosi jika mendengar nama perusahaan itu. "Fiona, Pa, calon istriku. Dia keluarga Adiputra," ucapannya membuat Abelano terkejut bahkan saking kaget matanya sampai melotot kepada Derdi. "Kok bisa?" Papanya tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu. "Kata dia, orang tuanya meninggal waktu dia masih SMP. Dan tiba-tiba pamannya mengambil alih semua harta warisannya. Sedangkan dia hanya diberi apartemen dan uang untuk sekolah sampai lulus SMA, Pa, bukankah kejam?" ucap Derdi lagi, dia mulai menceritakan apa yang diketahuinya. "Iya, iya, dulu papa pernah dengar jika perusahaan Adiputra nggak seperti yang sekarang ini, dulu Fernan kalau nggak salah nama CEOnya, dia itu baik hati walau Papa cuma ketemu sekali, tapi dia sangat ramah dengan semua temannya," ucap papanya mulai mengingat masa lalu. "Pa, aku jadi berpikir, mungkinkah kasus kematian orang tua Fiona itu suatu hal yang di sengaja?" Derdi mengutarakan apa yang mengganjal dipikirannya sedari tadi. "Setelah aku selidiki lagi, nenek beserta kakek Fiona juga sudah meninggal, Pa, dan hal yang sangat mencengangkan, Paman Fiona itu anak angkat dari kakek dan neneknya." "Bisa saja ada kaitannya, Son, karena harta. Ya ampun, sampai anak tak berdosa yang jadi korbannya. Kamu cepat nikahi Fiona! Papa takut kalau suatu saat pamannya tahu Fiona sama kamu, dia juga akan membunuh Fiona karena takut dia meminta hak dari harta itu. Papa akan membantu kamu untuk mengembali kan apa yang seharusnya jadi milik Fiona," ucap papanya tegas. "Iya, Pa, aku akan menikahi Fiona satu bulan lagi, Papa sama Mama bantu untuk memperlancar acaranya." Abelano mengangguki apa yang diucapakan oleh anaknya. Apa pun itu, dia akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi baru pertama kali ini Abelano melihat Derdi serius dengan hubungan yang dijalaninya. Dia hanya bisa berdoa semoga acaranya akan lancar sesuai dengan yang diinginkan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD